Purposive Sampling

Purposive Sampling #1

Exsight ADS

Hai hai sobat Exsight, masih ingat gak nih pada artikel sebelumnya terkait 9 Jenis Metode Sampling Pada Penelitian, terdapat salah satu metode sampling yang cukup menarik yaitu Purposive Sampling.

Nah pada artikel ini kita akan bahas lebih mendalam meliputi kelebihan & kelemahan, jenis-jenis, tahapan, syarat-syarat serta contoh aplikasi real dari Purposive Sampling. Yuk simak artikel ini dengan seksama yaa!

Definisi

Purposive Sampling atau disebut juga Judgmental Sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan pertimbangan peneliti. Dalam purposive sampling, peneliti memilih sampel yang dianggap dapat memberikan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.

Misalnya peneliti memilih responden yang harus menguasai bidang tertentu atau ahli (expertise) dengan bidang yang sedang diteliti. Metode ini sering digunakan jika hanya sedikit orang yang memahami serta menguasai bidang yang sedang diteliti.

Tujuan Purposive Sampling
Untuk memilah-milah serta memastikan bahwa suatu sampel penelitian dapat memberikan informasi yang signiffikan terhadap fenomena yang diteliti serta memenuhi kriteria yang telah ditentukan secara khusus oleh peneliti.

Kelebihan dan Kelemahan

Sebagai metode sampling, Purposive Sampling memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu sebagai berikut.

Kelebihan

  1. Efektif dalam memilih sampel sesuai dengan tujuan dan kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
  2. Cocok untuk digunakan dalam penelitian dengan subjek yang sulit dijangkau atau langka.
  3. Hemat waktu dan biaya serta mudah untuk menggeneralisasi sampel daripada sampel acak, dimana tidak semua peserta memiliki karakteristik sesuai keinginan peneliti.

Kelemahan

  1. Jumlah sampel yang digunakan belum tentu representatif dalam segi jumlah.
  2. Terdapat kemungkinan bias, dikarenakan dalam pemilihan sampel peneliti bisa memilih sampel yang dianggap bisa memberikan hasil yang diinginkan.
  3. Adanya generalisasi sampel menyebabkan Purposive Sampling tidak mewakili populasi secara keseluruhan, sehingga hasil penelitian menjadi terbatas.
  4. Memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang populasi dan subjek yang diteliti.

Jenis-Jenis Purposive Sampling

Purposive Sampling berdasarkan cara perlakuannya dalam pengambilan sampel dapat dibedakan menjadi 7 jenis yaitu sebagai berikut.

A. Pengambilan Sampel Homogen

Pengambilan sampel secara homogen dilakukan pada suatu kelompok tertentu dengan karakteristik atau ciri-ciri yang sama (Homogen). Sebagai contoh, sekelompok orang dipilih menjadi sampel karena adanya kesamaan usia, jenis kelamin, latar belakang, pekerjaan, budaya, dan sebagainya.

B. Pengambilan Sampel Heterogen (Variasi Maksimum)

Pengambilan sampel heterogen merupakan kebalikan dari pengambilan sampel homogen, dimana sampel dipilih dari berbagai berbagai kelompok dengan karakteristik yang bervariasi (heterogen). Pengambilan sampel secara heterogen bertujuan untuk menambah wawasan mengenai suatu fenomena yang diteliti dari berbagai perspektif responden (sebagai sampel).

C. Pengambilan Sampel Ekstrim (Menyimpang)

Pengambilan sampel secara ekstim ditujukan untuk kasus-kasus outlier yang jarang terjadi atau tidak umum di masyarakat, dimana bertujuan untuk memahami kasus yang lebih teratur berdasarkan kasus-kasus yang menyimpang.

Contoh: Peneliti ingin mengetahui tanggapan responden terkait LGBTQ.

D. Pengambilan Sampel Khusus (Tipikal)

Pengambilan sampel secara khusus (tipikal) dilakukan ketika peneliti ingin mempelajari kasus-kasus yang berhubungan dengan anggota tipikal sampel induk.

Sebagai contoh: Penelitian dilakukan terkait pengaruh inflasi terhadap pendapatan rata-rata atau rendah, dimana dalam hal ini responden yang berpenghasilan rata-rata atau rendah saja yang akan dipilih sebagai sampel.

E. Pengambilan Sampel Secara Total

Pada pengambilan sampel secara total, seluruh total populasi dengan karakteristik yang sama akan disurvei. Sebagai contoh: Penelitian dilakukan untuk mendalami dengan investigasi yang relatif kecil.

F. Pengambilan Sampel Kasus Kritis

Pengambilan sampel untuk kasus kritis ditujukan pada kasus-kasus yang kaya informasi untuk mewakili populasi serta amat penting untuk kebutuhan penelitian, dimana peneliti mengharapkan mendapat rincian informasi secara detail agar nantinya bisa dipelajari dan diterapkan untuk kasus serupa lainnya.

G. Pengambilan Sampel Ahli (Expert)

Sesuai dengan namanya, pengambilan sampel ini dilakukan ketika peneliti membutuhkan responden yang ahli (expert) dalam keahlian tertentu yang jarang dimiliki orang lain.

Misalnya peneliti memilih responden yaitu para expert di bidang informatika, dikarenakan peneliti ingin mendalami permasalahan dalam teknologi informatika.

Tahapan

Terdapat beberapa tahapan dalam Purposive Sampling yaitu sebagai berikut:

1. Menentukan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian nantinya akan menjadi acuan dalam memilih kriteria sampel, dimana tujuan penelitian harus ditentukan secara jelas dan spesifik agar tidak terjadi bias.

2. Menentukan Kriteria-Kriteria Sampel
Kriteria-kriteria sampel dalam hal ini berupa karakteristik tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya.

3. Mencari dan Memilih Sampel
Pencarian dan pemilihan sampel dapat dilakukan menggunakan berbagai sumber seperti direktori, database, organisasi, atau jejaring sosial.

4. Mengumpulkan data
Pengumpulan data dapat menggunakan berbagai teknik seperti wawancara, observasi, atau kuesioner, dimana data yang diperoleh harus sesuai dengan tujuan penelitian dan kriteria sampel yang telah ditetapkan.

5. Menganalisis Data
Data yang telah terkumpul, selanjutnya dapat dianalisis dengan berbagai metode seperti analisis statistika deskriptif maupun analisis statistika inferensia. Hasil analisis diharapkan dapat menjawab tujuan penelitian dan mengungkapkan informasi yang relevan dengan populasi yang diteliti.

Syarat-Syarat Purposive Sampling

Syarat-syarat dalam menentukan sampel pada teknik Purposive Sampling adalah sebagai berikut:

  1. Penentuan kriteria sampel ditetapkan dengan teliti serta spesifik dan relevan dengan tujuan penelitian.
  2. Sampel yang dipilih harus memiliki karakteristik terbanyak dari populasi dengan kata lain memiliki ciri-ciri yang dominan.
  3. Pemilihan sampel melalui pertimbangan tertentu berdasarkan latar belakang yang dikehendaki peneliti.
  4. Pelaksanaan Purposive Sampling harus mematuhii prinsip etika penelitian, dimana sampel yang dipilih tidak tidak mengalami kerugian atau ketidaknyamanan akibat partisipasi dalam penelitian.

Contoh Purposive Sampling

Aplikasi penerapan Purposive Sampling dapat dimisalkan sebagai berikut

Terdapat suatu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pandangan para ahli di bidang pertanian mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap produksi pertanian.

Adapun peneliti menetapkan kriteria sampel, yaitu para ahli yang berpengalaman dalam bidang pertanian dan perubahan iklim. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Purposive Sampling , dimana responden yang terpilih dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai mengenai topik yang diteliti.

Purposive Sampling

Melalui proses pencarian, didapatkan responden ahli yang memenuhi kriteria sampel yang ditetapkan, yaitu para responden yang berasal dari berbagai lembaga seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan praktisi di bidang pertanian sebanyak 8 orang.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pertanyaan berupa pandangan ahli mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap produksi pertanian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif untuk mendapatkan temuan-temuan baru dan pemahaman yang lebih dalam mengenai pandangan para ahli tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh informasi bahwa para ahli mengakui adanya pengaruh perubahan iklim terhadap produksi pertanian, seperti perubahan pola curah hujan dan suhu udara yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih baik dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

Kesimpulan

Teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling dilakukan dengan memilih sampel berdasarkan kriteria dan ciri-ciri khusus yang telah ditetapkan oleh peneliti. Melalui metode Purposive Sampling diharapkan dapat menghasilkan data yang valid dan representatif serta memudahkan peneliti dalam menjawab pertanyaan penelitian.

Referensi

Palinkas, L. A., Horwitz, S. M., Green, C. A., Wisdom, J. P., Duan, N., & Hoagwood, K. (2015). Purposeful sampling for qualitative data collection and analysis in mixed method implementation research. Administration and policy in mental health and mental health services research, 42(5), 533-544.

Scheaffer, R. L., Mendenhall, W., Ott, R., & Gerow, K. G. (2011). Elementary Survey Sampling Seventh Edition. Boston: Cengage Learning.

Cochran, W. G. (1977). Sampling Techniques Third Edition. New York: John Wiley & Sons Inc.

Jadi, sekian penjelasan terkait Purposive Sampling. Jika masih terdapat hal-hal yang dibingungkan bisa langsung saja ramaikan kolom komentar atau hubungi admin melalui tombol bantuan di kanan bawah. Stay tuned di website https://exsight.id/blog/ agar tidak ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya. See you di artikel selanjutnya!

Sstt...
Mau Kiriman Artikel Terbaru Exsight
Tanpa Biaya Langganan? ????

Nama Kamu

Email Kamu

Dapatkan Akses Informasi Terupdate Seputar Dunia Data dan Statistika 🙂

Exsight ADS

Leave a Comment

Klik Daftar Isi Disini