Dhita Widhiastika

Photo by Nick Brunner on Unsplash

Jenis Distribusi Frekuensi dalam Pengolahan Data

Jenis distribusi frekuensi sudah dibahas pada artikel sebelumnya ya sobat Exsight, bisa dibaca kembali di artikel ini ya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Pada artikel ini akan dijelaskan lebih detail terkait setiap jenis distribusi frekuensi, dilengkapi dengan studi kasus dan output yang disajikan dalam bentuk tabel/grafik.

Pada prinsipnya, ditribusi frekuensi adalah konsep yang digunakan untuk mengelompokkan data ke dalam beberapa kategori atau kelas, sehingga kita bisa memahami pola yang ada dalam kumpulan data tersebut. Distribusi frekuensi memiliki beberapa jenis, tergantung pada karakteristik data dan tujuan analisis. Berikut adalah tiga jenis distribusi frekuensi utama yang biasa digunakan:

1) Distribusi Frekuensi Biasa
Distribusi frekuensi biasa adalah jenis distribusi yang hanya menunjukkan jumlah atau frekuensi setiap kelompok data. Dengan distribusi ini, kita dapat melihat berapa banyak data yang termasuk dalam masing-masing kelompok atau kelas. Distribusi frekuensi biasa terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa (atau kategori).

  • Distribusi Frekuensi Numerik: Dalam distribusi ini, data dikelompokkan berdasarkan nilai numeriknya. Contohnya, dalam data tinggi badan siswa, kita dapat mengelompokkan siswa berdasarkan rentang tinggi tertentu, seperti 150-160 cm, 160-170 cm, dan seterusnya.
  • Distribusi Frekuensi Peristiwa atau Kategori: Berbeda dengan frekuensi numerik, jenis distribusi ini digunakan untuk data kategori atau kualitatif. Misalnya, untuk data preferensi warna, kita bisa membuat kelompok berdasarkan warna favorit, seperti merah, biru, hijau, dan kuning, lalu menghitung berapa banyak orang yang memilih setiap warna tersebut.

2) Distribusi Frekuensi Relatif
Distribusi frekuensi relatif menunjukkan perbandingan atau proporsi dari setiap kelas atau kelompok terhadap jumlah total pengamatan yang ada. Dalam distribusi ini, kita menghitung seberapa besar data dalam setiap kelas dibandingkan dengan keseluruhan data yang diwakili dalam bentuk persentase atau pecahan. Distribusi ini diperoleh dengan cara membagi frekuensi pada setiap kelas dengan total jumlah data. Misalnya, jika kita memiliki data panjang ikan dan ingin mengetahui berapa persentase ikan yang memiliki panjang antara 135-150 mm, kita dapat menggunakan distribusi frekuensi relatif untuk mendapatkannya.

3) Distribusi Frekuensi Kumulatif
Distribusi frekuensi kumulatif adalah jenis distribusi yang menunjukkan frekuensi kumulatif atau total yang dijumlahkan dari kelas pertama hingga kelas tertentu. Dalam distribusi ini, kita mengumpulkan frekuensi secara bertahap hingga mencapai kelas terakhir. Distribusi ini sangat berguna ketika kita ingin melihat seberapa banyak data yang berada di bawah atau di atas nilai tertentu dalam data kita. Distribusi frekuensi kumulatif terdiri dari dua jenis:

  • Distribusi Frekuensi Kumulatif Kurang Dari: Dalam jenis ini, kita menjumlahkan frekuensi dari kelas yang paling rendah hingga kelas tertentu, sehingga kita dapat mengetahui berapa banyak data yang kurang dari atau di bawah nilai tertentu.
  • Distribusi Frekuensi Kumulatif Lebih Dari: Sebaliknya, pada distribusi ini, kita menjumlahkan frekuensi dari kelas tertentu hingga kelas yang paling tinggi, yang menunjukkan berapa banyak data yang berada di atas atau lebih dari nilai tertentu.

Distribusi frekuensi kumulatif biasanya disajikan dalam bentuk grafik yang disebut kurva ogif. Kurva ini menggambarkan akumulasi data dari kelas ke kelas, dan membantu dalam memahami pola penyebaran data secara keseluruhan.

Pada artikel ini akan dibahas lebih detail terkait setiap jenis distribusi frekuensi, dilengkapi dengan studi kasus dan output yang disajikan dalam bentuk grafik.

Distribusi Frekuensi Biasa

Jenis distribusi frekuensi ini adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung jumlah frekuensi dari masing-masing kelompok data. Terdapat dua jenis distribusi frekuensi, yakni distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa atau kategori. Untuk lebih jelasnya, terdapat studi kasus dan contoh pengerjaan dan penyusunan distribusi frekuensi numerik dan peristiwa sebagai berikut:

Studi kasus distribusi frekuensi numerik

Pada studi kasus distribusi frekuensi numerik sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya. Untuk mengingat kembali, penyusunan tabel distribusi frekuensinya sebagai berikut langkah-langkahnya:

1) Menentukan Jangkauan (Range)
Langkah pertama setelah mengurutkan data adalah menghitung jangkauan, yang merupakan selisih antara nilai data terbesar dan terkecil. Jangkauan membantu dalam menentukan seberapa luas rentang data yang ada, yang nantinya akan digunakan untuk mengatur kelas-kelas dalam distribusi. Rumusnya adalah:

\text{Jangkauan} = \text{Data Terbesar} - \text{Data Terkecil}

2) Menentukan Jumlah Kelas (k)
Menentukan jumlah kelas adalah tahap penting dalam distribusi frekuensi. Untuk jumlah kelas, kita bisa menggunakan rumus Sturgess:

k = 1 + 3.3 \log(n)

Di sini, k adalah banyaknya kelas yang akan digunakan, dan n adalah total data. Rumus ini membantu memastikan bahwa jumlah kelas yang dipilih sesuai dengan ukuran data yang dimiliki, sehingga distribusi frekuensi dapat terbaca dengan baik.

3) Menentukan Panjang Interval Kelas
Panjang interval kelas adalah jarak yang memisahkan setiap kelas dalam distribusi. Interval ini akan membantu mempermudah pembagian data dalam setiap kelas. Rumusnya adalah:

i = \frac{\text{Jangkauan (R)}}{\text{Jumlah Kelas (k)}}

Interval kelas yang tepat membuat data lebih mudah dianalisis dan membantu menghindari kelas yang terlalu lebar atau terlalu sempit.

4) Menentukan Batas Bawah Kelas Pertama
Menentukan batas bawah kelas pertama adalah langkah penting dalam distribusi frekuensi. Batas bawah ini biasanya dimulai dari data terkecil atau bisa juga menggunakan nilai sedikit lebih rendah dari data terkecil, tergantung pada rentang data. Selisih antara batas bawah kelas pertama dan data terkecil biasanya kurang dari panjang interval kelas yang ditentukan sebelumnya. Batas ini akan menjadi acuan untuk menentukan batas kelas berikutnya.

5) Mengisi Frekuensi Kelas dalam Kolom Tally atau Turus
Langkah terakhir dalam menyusun distribusi frekuensi adalah mencatat frekuensi kelas ke dalam kolom turus atau tally. Kolom tally berfungsi sebagai catatan visual dari jumlah data yang ada pada setiap kelas. Dalam sistem tally, kita cukup mencoret satu garis untuk setiap data yang berada dalam kelas tertentu. Setelah seluruh data dicatat dalam kelas masing-masing, kita bisa mengetahui berapa banyak data yang berada pada setiap interval, sehingga kita mendapatkan distribusi frekuensi lengkap.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, distribusi frekuensi dapat disusun dengan lebih rapi dan memudahkan analisis data lebih lanjut. Berikut output nya dalam bentuk tabel frekuensi distribusi:

TL (mm)Frekuensi
17.20-17.8014
17.90-18.5042
18.60-19.209
19.30-19.903
20.00-20.602
20.70-21.301
21.40-22.003

Studi kasus distribusi frekuensi kategori/peristiwa

Salah satu indikator untuk mengukur efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi dapat dlihat dari tingkat kelulusan dari setiap jenjang pada universitas/perguruan tinggi tersebut. Terdapat universitas yang memiliki 4 jenjang program pendidikan yakni vokasi, sarjana, magister, dan doktoral. Dalam satu tahun berhasil meluluskan 12.000 mahasiswa. Pengklasifikasiannya yakni lulusan vokasi sebanyak 2.457 mahasiswa, sarjana 7.263 mahasiswa, magister 1.975 mahasiswa, dan doktoral 305 mahasiswa.

Penyusunan dalam tabel frekuensi distribusi sebagai berikut:

Jenjang program pendidikanFrekuensi (individu)
Vokasi2457
Sarjana7263
Magister1975
Doktoral305

Output selain dalam bentuk tabel frekuensi bisa dalam bentuk grafik batang/bar chart sebagai berikut:

bar chart distribusi frekuensi

Distribusi Frekuensi Relatif

Distribusi frekuensi yang berisikan nilai-nilai hasil bagi antara frekuensi kelas dan jumlah pengamatan. Distribusi frekuensi relatif menyatakan proporsi data yang berada pada suatu kelas interval. Distribusi frekuensi relatif pada suatu kelas didapatkan dengan cara membagi frekuensi dengan total data yang ada dari pengamatan atau observasi.

Rumus dari frekuensi relatif sebagai berikut:

 fr_{i} = \frac{f_{i}}{\sum_{i=1}^{k} f_{i}} \times 100 \%

Keterangan:
fri = frekuensi relatif kelas i
fi = frekuensi kelas i
∑fi= jumlah frekuensi kelas 1 sampai k
i = 1, 2, 3, …, k

Studi kasus distribusi frekuensi relatif

Pada studi kasus distribusi frekuensi relatif sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya.

Frekuensi relatif (%) dihitung dengan pembagian antara jumlah frekuensi perkelas dibagi dengan total frekuensi, kemudian dikali 100%.

Kita ambil salah satu contoh perhitungan pada kelas pertama yakni pada panjang ikan yang berukuran 17.20-17.80 mm berjumlah 14, frekuensi kelas tersebut dibagi dengan total frekuensi yakni 74, kemudian dikali 100%. Penulisan perhitungannya yakni (14 : 74) x 100% = 19%

TL (mm)FrekuensiFrekuensi Relatif (%)
17.20-17.801419
17.90-18.504257
18.60-19.20912
19.30-19.9034
20.00-20.6023
20.70-21.3011
21.40-22.0034
Total74

Distribusi Frekuensi Kumulatif

Distribusi frekuensi yang berisikan frekuensi kumulatif (frekuensi yang dijumlahkan). Distribusi frekuensi kumulatif memiliki kurva yang disebut ogif. Ada dua macam distribusi frekuensi kumulatif, yaitu distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan distribusi frekuensi lebih dari.

Studi kasus distribusi frekuensi kumulatif

Pada studi kasus distribusi frekuensi relatif sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya.

Frekuensi kumulatif kurang dari

TL (mm)FrekuensiTL (mm) kurang dariFrekuensi kumulatif kurang dari
kurang dari 17.200
17.20-17.8014kurang dari 17.900 + 14 = 14
17.90-18.5042kurang dari 18.600 + 14 + 42 = 56
18.60-19.209kurang dari 19.300 + 14 + 42 + 9 = 65
19.30-19.903kurang dari 20.000 + 14 + 42 + 9 + 3 = 68
20.00-20.602kurang dari20.700 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 = 70
20.70-21.301kurang dari21.400 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 + 1 = 71
21.40-22.003kurang dari 22.100 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 + 1 + 3 = 74

Frekuensi kumulatif lebih dari

TL (mm)FrekuensiTL (mm) lebih dariFrekuensi kumulatif lebih dari
17.20-17.8014lebih dari 17.2074
17.90-18.5042lebih dari 17.9074 – 14 = 60
18.60-19.209lebih dari 18.6074 – 14 – 42 = 18
19.30-19.903lebih dari 19.3074 – 14 – 42 – 9 = 9
20.00-20.602lebih dari 20.0074 – 14 – 42 – 9 – 3 = 6
20.70-21.301lebih dari 20.7074 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 = 4
21.40-22.003lebih dari 21.4074 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 – 1 = 3
lebih dari 22.1074 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 – 1 – 3 = 0

Dengan memahami ketiga jenis distribusi frekuensi ini—distribusi frekuensi biasa, distribusi frekuensi relatif, dan distribusi frekuensi kumulatif—kita bisa mendapatkan wawasan lebih dalam tentang data yang kita miliki. Masing-masing jenis distribusi memiliki kegunaan tersendiri, tergantung pada apa yang ingin kita lihat dari data tersebut. Distribusi frekuensi biasa cocok digunakan untuk melihat jumlah setiap kelas atau kategori, distribusi frekuensi relatif cocok untuk melihat proporsi, dan distribusi frekuensi kumulatif berguna untuk analisis akumulasi data dari kelas terendah hingga tertinggi.

Referensi

Andriani, D. P. 2019. Distribusi Frekuensi. Brawijaya University.

Hasanah, N., Putra, A. E., Nurdin, M. S., dan Maasily, I. S. 2022. Pertumbuhan Ikan Tongkol Lisong (Auxis rochei) di Selat Makassar Sulawesi Tengah. Prosiding Semnas Politani Pangkep. Vol 3.

Nugrogo, A. A., Dwijayanti, I., Prasetyowati, R. D. 2023. Statistik Berbantu Ms. Excel. Patlot Publisher.

Sekian penjelasan artikel kali ini. Apabila masih ada yang dibingungkan bisa langsung saja ramaikan kolom komentar atau hubungi admin melalui tombol bantuan di kanan bawah. Stay tuned di website https://exsight.id/blog/ agar tidak ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya. Bye bye!

Jenis Distribusi Frekuensi dalam Pengolahan Data Read More »

Uji Friedman pada Produktivitas Penangkapan Bagan Rambo

Uji friedman pada produktivitas penangkapan bagan rambo
Alat tangkap bagan rambo

Pengertian

Uji Friedman adalah salah satu metode analisis statistik nonparametrik yang diperkenalkan oleh Friedman pada tahun 1937. Uji ini dirancang untuk menguji kesamaan pengaruh perlakuan tetap dari dua atau lebih populasi dengan menggunakan data minimal berskala ordinal.

Penggunaan uji Friedman banyak diterapkan dalam penelitian, terutama ketika data diambil dari beberapa subjek atau blok, dan setiap blok diberikan perlakuan tertentu. Uji ini memungkinkan para peneliti untuk mengevaluasi apakah perlakuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap data yang dianalisis.

Konsep Dasar Uji Friedman

  • Uji Friedman digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan dari hasil pengukuran data yang dilakukan secara berulang (data pre-post atau sebelum-sesudah) pada suatu variabel penelitian
  • Uji Friedman merupakan bagian dari Statistik Non Parametrik
  • Uji Friedman merupakan alternatif uji statistik dari Repeated Measure ANOVA, jika asumsi normalitas data tidak terpenuhi atau data tidak terdistribusi normal

Asumsi-asumsi pada Uji Friedman

Terdapat beberapa asumsi yang perlu diperhatikan dalam penerapan uji Friedman. Asumsi-asumsi ini terbagi menjadi dua kategori: yang perlu dipenuhi dan yang bersifat opsional. Berikut adalah asumsi yang harus dipenuhi dalam uji Friedman:

  1. Data ordinal: Data minimal harus diukur dalam skala ordinal.
  2. Blok independen: Data terdiri atas r buah sampel (blok) berukuran t yang saling bebas. Nilai pengamatan ke-i dalam blok ke-j dinyatakan sebagai Xij.
  3. Variabel kontinu: Variabel yang diambil harus bersifat kontinu.
  4. Tidak ada interaksi blok dan perlakuan: Tidak terdapat efek interaksi antara blok-blok dan perlakuan-perlakuan.
  5. Pengamatan dapat diperingkatkan: Nilai pengamatan dalam setiap blok boleh diperingkatkan berdasarkan besarnya.
  6. Ketergantungan perlakuan: Sampel yang mendapatkan perlakuan tidak saling bebas jika:
    • Sebuah sampel mengalami beberapa kali pengukuran (t kali).
    • Beberapa sampel mengalami pencocokan.

Kriteria Pengujian Friedman

Untuk melakukan uji Friedman, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pengujian, yaitu:

1. Memberikan Peringkat pada Data

Langkah pertama dalam uji Friedman adalah memberikan peringkat terhadap nilai-nilai pengamatan dalam setiap blok. Proses pemberian peringkat dimulai dari nilai terkecil, yang diberi peringkat 1, hingga nilai terbesar, yang diberi peringkat t.

Jika terdapat nilai yang sama dalam satu blok, nilai-nilai tersebut diberi peringkat rata-rata berdasarkan posisi peringkatnya. Proses ini penting untuk memastikan data dapat diolah sesuai dengan metode uji Friedman.

2. Menjumlahkan Peringkat

Setelah semua data diberi peringkat, langkah berikutnya adalah menjumlahkan peringkat untuk setiap perlakuan. Hasil penjumlahan ini dinotasikan sebagai Hj​, di mana j = 1,2,3,…,t. Dalam kondisi hipotesis nol (H0​) diterima, jumlah peringkat pada setiap tingkat perlakuan harus sama.

3. Menentukan Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam uji Friedman terdiri dari dua jenis:

  • Hipotesis Nol (H0​): Setiap perlakuan memiliki pengaruh yang sama.
  • Hipotesis Alternatif (H1): Setidaknya ada satu pasang perlakuan yang memiliki pengaruh berbeda.

4. Menetapkan Taraf Nyata

Taraf nyata (α) sering digunakan sebagai batas toleransi kesalahan dalam pengujian. Nilai α yang umum dipakai adalah 0,01 atau 0,05. Misalnya, dengan α = 0,05, artinya dari 100 kali pengujian, kemungkinan kesalahan hanya terjadi sebanyak 5 kali.

5. Melakukan Perhitungan Statistik

Statistik uji Friedman dihitung dengan menggunakan rumus yang akan dijelaskan pada bagian berikut. Statistik ini digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan-perlakuan yang diberikan.

Tabel Layout Data

Berikut adalah tata letak (layout) data yang sering digunakan dalam uji Friedman. Data dikelompokkan berdasarkan perbedaan perlakuan dan subjek (blok):

Perlakuan123t
Blok 1X11X12X13X1t
Blok 2X21X22X23X2t
Blok rXr1Xr2Xr3Xrt

Tabel ini menunjukkan bagaimana data diorganisasikan sebelum dilakukan analisis dengan uji Friedman.

Statistik Uji Friedman

Statistik uji Friedman digunakan untuk mengevaluasi apakah terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan-perlakuan. Statistik ini dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah peringkat teramati (Hj) dan jumlah peringkat harapan.

Misalkan:

  • Hj​ = Jumlah peringkat pada perlakuan ke-j,
  • r = Jumlah blok,
  • t = Jumlah perlakuan.

Berdasarkan layout data uji Friedman pada Tabel, memperlihatkan bahwa dengan uji Friedman, terdapat satuan percobaan yang dikelompokkan menurut perbedaan perlakuan, dan juga dikelompokkan menurut perbedaan subjek menjadi sejumlah blok.

Kesimpulan yang diperoleh dari uji Friedman yaitu apakah sejumlah k kelompok perlakuan berasal dari populasi yang sama. Misalkan bahwa Ri menotasikan jumlah peringkat (rank) pada perlakuan ke-i , dapat dituliskan nilai harapan Ri :

 R_{i}=\frac{r(t+1)}{2}​

Dimana:
r = banyaknya blok
t = banyaknya perlakukan

Peringkat pada uji Friedman pada setiap blok dijumlahkan dan dirumuskan sebagai berikut:

S = \sum_{i=1}^{t}\left [ R_{i}- \frac{r(t+1)}{2}\right ]^{2}

Dimana:
Ri = jumlah peringkat teramati pada perlakukan ke-i
i = 1, 2, 3, …, t

Dengan demikian, statistik uji friedman merupakan perbandingan antara jumlah peringkat teramati dengan jumlah peringat harapan dan dinotasikan sebagai berikut:

T = \frac{12}{rt (t+1)} \sum_{i=1}^{t}\left [ R_{i}- \frac{r(t+1)}{2}\right ]^{2}

Alternatif rumus dari statistik uji T yakni sebagai berikut :

T = \frac{12}{rt (t+1)} \sum_{i=1}^{t} R_{i}^{2} - 3r (r+1)

Interpretasi

Hasil uji Friedman memberikan kesimpulan apakah sejumlah kelompok perlakuan berasal dari populasi yang sama. Jika H0​ ditolak, berarti terdapat setidaknya satu pasang perlakuan yang memiliki pengaruh berbeda. Sebaliknya, jika H0​ diterima, semua perlakuan dianggap memiliki pengaruh yang sama.

Uji Friedman sangat berguna dalam berbagai penelitian, terutama ketika data ordinal digunakan dan perlakuan diberikan pada beberapa subjek atau blok yang sama. Dengan memahami langkah-langkah dan asumsi dalam uji ini, peneliti dapat dengan mudah mengevaluasi hipotesis dan mendapatkan hasil yang valid serta akurat.

Studi Kasus: Produktivitas Penangkapan Bagan Apung

Setiap jenis alat tangkap memiliki kemampuan tangkap yang berbeda yang diketahui dari produktivitas penangkapan dari suatu alat tangkap. Salah satu alat tangkap yang potensial yakni bagan rambo di perairan Barru, Sulawesi Selatan. Bagan rambo yang ada di Kabupaten Barru sama dengan bagan rambo pada daerah lain, yaitu alat tangkap ikan yang dioperasikan dengan dua kapal. Kapal utama berfungsi sebagai penyangga bagan yang tidak memiliki mesin penggerak. Kapal pengantar berfungsi untuk menarik kapal bagan dari pangkalan pendaratan ke area tangkapan dan dari area tangkapan ke pangkalan pendaratan, mengantar nelayan bagan rambo dari daerah pangkalan pendaratan ke daerah tangkapan dan sebaliknya, mengambil hasil tangkapan dari bagan rambo serta mengantar bahan operasional penangkapan.

Bagan rambo merupakan salah satu alat tangkap kategori jaring angkat yang dioperasikan di perairan pantai pada malam hari dengan mengunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk menarik atau memikat ikan. Target tangkapan bagan rambo yakni jenis ikan pelagis kecil, seperti ikan teri (Stolephorus sp), tembang (Sardinella sp), layang (Decapterus sp), kembung (Rastrelliger sp).

Ukuran bagan rambo lebih besar dibandingkan dengan jenis bagan lainnya, seperti bagan apung, bagan tancap, dll. Selain itu, bagan rambo menggunakan lampu dengan kekuatan/daya dan jumlah lampu yang banyak sehingga kemampuan tangkap bagan rambo tinggi atau menghasilkan banyak hasil tangkapannya. Ukuran alat tangkap dan teknologi alat bantu penangkapan yang digunakan adalah besaran upaya penangkapan.

Contoh Kasus

Seorang peneliti ingin mengetahui adanya perbedaan produktivitas penangkapan bagan rambo berdasarkan waktu hauling. Terdapat 3 waktu hauling berdasarkan waktu yang paling awal, kedua, dan terakhir.

Hipotesis:

  • H0 = Peringkat rata-rata produktivitas penangkapan yang dibandingkan tidak berbeda
  • H1 = Peringkat rata-rata produktivitas penangkapan yang dibandingkan berbeda

Pengambilan keputusan:

  • Asymp.Sig. < taraf nyata (α = 0.05) berarti tolak H0
  • Asymp.Sig. > taraf nyata (α = 0.05) berarti terima H0

Tutorial analisis data dengan SPSS

  • Siapkan data yang akan dianalisis, kali ini datanya terdiri dari 3 kolom berdasarkan waktu hauling
  • Buka software SPSS, kemudian pilih pada menu tab Variable View yang terletak di bawah window
    Selajutnya bisa diisi judul, disesuaikan dengan contoh yang ada di gambar
  • Copy data dari excel dan kemudian paste pada SPSS di bagian menu Data View
  • Kita uji non parametrik – uji Friedman dengan klik Analyze – Nonparametric Test – Legacy Dialogs – K Related Samples
  • Pilih ketiga variable yang kemudian diinput di bagian Test Variables dengan bantuan tanda panah
    Pastikan Test Type Friedman tercentang, kemudian klik OK
  • Berikut output hasil uji Friedman

Interpretasi

Dari hasil uji Friedman tersebut didapatkan nilai Asymp. Sig = 0.421, dimana Asymp.Sig. > taraf nyata (α = 0.05) berarti terima H0 (peringkat rata-rata produktivitas penangkapan yang dibandingkan tidak berbeda)
Dengan dimikian dapat disimpulkan bahwa hasil uji statistik dengan menggunakan statistik non parametrik Friedman test menunjukkan tidak adanya perbedaan produktivitas penangkapan berdasarkan waktu hauling.

Peluang penangkapan ikan pelagis kecil dengan menggunakan bagan rambo berdasarkan data 3 waktu hauling pada contoh studi kasus tersebut ternyata memberikan hasil bahwa produktivitas penangkapannya sama saja. Pada studi kasus ini, tentu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan data lapang pada produktivitas penangkapan bagan apung tersebut.

Simpulan

Uji Friedman merupakan uji statistik non parametrik di mana asumsi normalitas data tidak terpenuhi atau data tidak terdistribusi normal. Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan dari data berulang (data pre-post atau sebelum-sesudah).

Pada contoh studi kasus produktivitas penangkapan bagan rambo berdasarkan waktu hauling nya dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan produktivitas penangkapan berdasarkan waktu hauling karena terima H0 pada taraf nyata α = 0.05.

Referensi

Alpiani. 2019. Pola Hubungan dan Sistem Bagi Hasil Punggawa-Sawi Pada Alat Tangkap Bagan Rambo di Kabupaten Barru. Gorontalo Fisheries Journal. Vol 2(1).
Mawati, R., Nugroho, S., Rizal, J. Uji Friedman dan Uji Anderson pada Rancangan Acak Kelompok Lengkap Dasar Nonparametrik
Nelwan, A. F. P., Farhum, S.A., Safruddin, Saputra, D. 2016. Produktivitas Penangkapan Bagan Rambo di Perairan Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Jurnal IPTEKS PSP. Vol. 3(5).

Sekian penjelasan artikel kali ini. Apabila masih ada yang dibingungkan bisa langsung saja ramaikan kolom komentar atau hubungi admin melalui tombol bantuan di kanan bawah. Stay tuned di website https://exsight.id/blog/ agar tidak ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya. See you and bye bye!

Uji Friedman pada Produktivitas Penangkapan Bagan Rambo Read More »

Uji Chi-Square Perikanan – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Nisbah Kelamin Ikan Layang pada Musim Timur)

Uji chi-square sudah banyak dibahas di artikel Exsight sebelumnya. Pastinya tidak asing dengan artikel-artikel ini kan ya, bisa dipelajari di link ini Chi-square Test: Tutorial SPSS dan Penjelasan dan Langkah Mudah Chi Square di R-Studio. Sudah lengkap bukan?? Ada tutorial dengan software SPSS dan juga R-Studio.

Nah, kali ini kita juga akan membahas uji chi-square, tapi ada yang berbeda loh. Pada artikel kali ini uji chi-square yang dibahas dalam bidang perikanan ya sobat Exsight. Uji chi-square dalam bidang perikanan ini membahas terkait nisbah kelamin ikan layang (Decapterus macrosoma). Fungsi analisis ini untuk mengetahui nisbah kelamin antara ikan jantan dan betina pada setiap waktu pengambilan sampel dan tingkat kematangan gonad (TKG).

Data yang digunakan dalam artikel berdasarkan asumsi (bukan data real) tapi tetap merujuk pada data scientific perikanan. Acuan datanya berasal dari jurnal Nisbah Kelamin dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma BLEEKER, 1841) di Perairan Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Software yang digunakan untuk uji chi-square kali ini adalah SPSS. Nisbah kelamin dengan menggunakan analisis uji chi-square kerap kali digunakan dalam riset perikanan. Untuk itu, mari kita pelajari tutorial spss uji chi-square nisbah kelamin ikan layang di artikel ini ya sobat Exsight!

Pengertian Chi-Square

Uji Chi-Square (χ²) adalah metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara dua variabel kategorik. Tujuan utama dari uji ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan signifikan antara variabel-variabel tersebut. Uji Chi-Square juga bermanfaat dalam menguji perbedaan proporsi antar kelompok atau kategori dalam data yang tidak bersifat numerik. Metode ini sering digunakan dalam berbagai disiplin ilmu seperti biologi, psikologi, dan sosiologi.

Ketentuan Uji Chi-Square:

  • Sampel bersifat independen
  • Jenis data yang dihubungkan: kategorik dengan kategorik

Chi-Square banyak digunakan dalam situasi berikut:

  • Menguji apakah terdapat hubungan signifikan antara dua variabel kategorik.
  • Menguji perbedaan proporsi antara dua atau lebih kelompok.
  • Menguji kesesuaian data observasi dengan distribusi yang diharapkan (uji goodness-of-fit).

Uji Chi-Square biasanya diterapkan pada tabel kontingensi 2×2 untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel kategorik.

Langkah-langkah Umum Uji Chi-Square Hubungan Antar Variabel

Uji Chi-Square juga digunakan untuk menguji hubungan antara dua variabel. Berikut adalah langkah-langkahnya:

1. Menetapkan Hipotesis

H0 (Hipotesis Nol): Tidak terdapat hubungan signifikan antara dua variabel.
H1 (Hipotesis Alternatif): Terdapat hubungan signifikan antara dua variabel.

2. Menetapkan Tingkat Signifikansi

Biasanya, tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5% atau α = 0.05

3. Menghitung Nilai Statistik Chi-Square

Rumus yang digunakan sama dengan sebelumnya:

 X^{2} = \sum \frac{(O_{i} - E_{i})^{2}}{E_{i}}

4. Menentukan Titik Kritis

Nilai kritis diperoleh dari tabel Chi-Square berdasarkan derajat kebebasan, yang dihitung sebagai:

df=(r−1)(c−1)

di mana r adalah jumlah baris dan c adalah jumlah kolom pada tabel kontingensi.

5. Pengambilan Keputusan

  • Jika χ² hitung ≥ χ² tabel, maka Ho ditolak; terdapat hubungan signifikan antara dua variabel.
  • Jika χ² hitung < χ² tabel, maka Ho diterima; tidak terdapat hubungan signifikan antara dua variabel.

Kelebihan dan Kekurangan Uji Chi-Square

Kelebihan:

  • Dapat diterapkan pada variabel kategorik.
  • Mudah diterapkan pada berbagai jenis tabel kontingensi.
  • Berguna dalam mengidentifikasi hubungan atau perbedaan proporsi.

Kekurangan:

  • Tidak dapat digunakan untuk data numerik.
  • Mengasumsikan bahwa data bersifat independen dan memiliki ukuran sampel yang cukup besar.
  • Rentan terhadap masalah jika terdapat frekuensi yang sangat kecil dalam tabel kontingensi.

Studi Kasus: Nisbah Kelamin Ikan Layang

Ikan layang (Decapterus macrosoma) adalah ikan pelagis yang banyak tertangkap di perairan Indonesia, terutama dengan metode tangkap seperti pukat cincin, jaring insang, dan payang. Studi mengenai nisbah kelamin ikan layang penting untuk menjaga populasi ikan ini agar tidak mengalami overfishing.

Sampel ikan layang deles hasil tangkapan nelayan yang bermukim di setiap lokasi tersebut diambil secara acak, dimasukkan ke dalam kotak styrofoam dan diberi es curah. Pengukuran contoh ikan yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan mistar ukur berketelitian 1 mm. Bobot tubuh dan bobot gonad ditimbang dengan menggunakan timbangan digital berketelitian 0.01 g.

Untuk menentukan Jenis kelamin, terlebih dahulu ikan contoh dibedah menggunakan alat bedah (gunting bedah, skalpel dan pinset) kemudian gonadnya diamati. Pengamatan TKG dilakukan secara morfologi dengan menggunakan bantuan lup dan ditentukan berdasarkan modifikasi dari klasifikasi Cassie.

Analisis Nisbah Kelamin

Dengan metode Chi-Square, kita bisa melihat apakah terdapat perbedaan signifikan dalam proporsi nisbah kelamin ikan layang pada musim tertentu, seperti musim timur yang biasanya berlangsung dari Juni hingga Oktober.

Musim timur, ketika terjadi angin kencang dari arah tenggara, memengaruhi kondisi laut dan kelimpahan ikan di berbagai perairan. Pada musim ini, kondisi laut yang lebih dingin dan kaya nutrisi meningkatkan ketersediaan plankton yang menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan kecil seperti ikan layang. Hal ini mengakibatkan peningkatan kelimpahan ikan layang, sehingga penangkapan lebih optimal. Namun, kondisi ini juga menuntut regulasi yang ketat agar sumber daya tidak mengalami penurunan populasi secara drastis.

Langkah-langkah Studi Kasus Nisbah Kelamin Ikan Layang

  1. Pengumpulan Data: Data dikumpulkan dari hasil tangkapan ikan layang selama musim timur (Juni hingga Oktober).
  2. Penentuan Jenis Kelamin: Ikan layang dibedah, dan jenis kelaminnya ditentukan berdasarkan pengamatan morfologi gonad.
  3. Menyusun Hipotesis:
    • H0: Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam nisbah kelamin ikan layang terhadap musim timur.
    • H1: Terdapat perbedaan signifikan dalam nisbah kelamin ikan layang terhadap musim timur.
  4. Menghitung Chi-Square:
    • Akan dikerjakan dengan bantuan software SPSS
  5. Menentukan Nilai Kritis dan Pengambilan Keputusan:
    • Jika nilai Asymp. Sig < 0.05 menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara musim timur terhadap nisbah kelamin ikan layang (jenis kelamin dan TKG)
    • Jika nilai Asymp. Sig > 0.05 menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara musim timur terhadap nisbah kelamin ikan layang (jenis kelamin dan TKG)

Dengan langkah-langkah ini, kita dapat memahami apakah terdapat perbedaan nisbah kelamin ikan layang yang signifikan di perairan tertentu, yang berguna untuk pengelolaan populasi ikan.

Tutorial SPSS – Nisbah Kelamin Ikan Layang

  • Data tersusun minimal 3 kolom yakni waktu/date, sex/jenis kelamin, dan TKG/tingkat kematangan gonad, yang sudah dirapikan pada Excel.
  • “Date_MM” berisikan bulan pengambilan data
  • “Sex” berisikan jenis kelamin, di mana dikategorikan “1” untuk jantan, sedangkan “2” untuk betina
  • “TKG” berisikan tingkat kematangan gonad, dimana dari spesifikasi TKG 1, 2, 3, 4, 5. Data ini tidak dikategorikan seperti pada data “Sex”
  • Buka software SPSS, kemudian pilih tab “Variable View” yang berfungsi untuk menginput data variabel agar dapat muncul di tab “Data View
  • Kita masukkan data variabelnya, pada baris pertama kita tulis “Date“, baris kedua “Sex“, sedangkan pada baris ketiga dituliskan “TKG“. Pada kolom “Name” ini, penulisannya tidak boleh ada spasi. Jika ingin menuliskan secara tepat dengan menambahkan spasi, maka bisa dituliskan pada kolom “Label
  • Pada kolom “Label” bisa dituliskan seperti pada kolom “Name” atau sesuai dengan kebutuhan. Pada kolom ini sudah bebas menuliskan dengan menggunakan spasi
  • Pada data “Sex” yang dikategorikan, isikan pengkategorian pada kolom “Value“, dengan klik titik tiga pada baris “Sex“, nanti akan muncul dialog box “Value Labels” seperti berikut ini:
  • Value = 1
  • Label = Jantan
  • Kemudian klik tombol “Add”
  • Begitu juga dengan value “2” dengan cara yang sama
  • Hasilnya seperti di bawah ini, ketika pada kolom tersebut sudah lengkap value untuk pengkategorian, kemudian klik “OK
  • Pada kolom “Decimals” bisa dituliskan “0” saja, karena pada data hanya menggunakan satuan saja tanpa ada data desimal
  • Copy semua data dari Excel , kecuali judulnya
  • Paste pada tab “Data View
  • Selanjutya mulai analisis chi-square dengan klik Analyze -> Descriptive Statistics -> Crosstabs
  • Variabel dependent / terikat = column
  • Variabel independent / bebas = row
  • Masukkan data-data nya seperti di bawah ini:
  • Date_MM = row
  • Sex dan TKG = column
  • Klik menu “Statistics” kemudian centang pada “Chi-square” dan klik “Continue”, setelah itu klik “OK”
  • Analisis Chi-square sudah selesai, hasilnya dapat dilihat pada window baru *Output1(Document1)

Berikut hasil dari analisis Chi-square

Interpretasi

Terdapat dua hubungan, yakni musim timur terhadap sex/ jenis kelamin ikan layang dan musim timur terhadap TKG ikan layang:

  • Pada hubungan musim timur terhadap sex didapatkan nilai Asymp. Sig = 0.006 pada Pearson Chi-Square (Asymp. Sig < 0.05) yang menyatakan bahwa ada hubungan signifikan antara musim timur terhadap jenis kelamin ikan layang.
  • Pada hubungan musim timur terhadap TKG didapatkan nilai Asymp. Sig = 0.000 pada Pearson Chi-Square (Asymp. Sig < 0.05) yang menyatakan bahwa ada hubungan signifikan antara musim timur terhadap TKG ikan layang.
  • Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara musim timur terhadap jenis kelamin dan TKG ikan layang dalam penelitian tersebut

Simpulan

Uji Chi-Square merupakan metode yang kuat untuk menganalisis hubungan antara variabel kategorik dan menguji kesesuaian data observasi dengan distribusi yang diharapkan. Metode ini menawarkan cara yang sederhana namun efektif untuk menguji hipotesis statistik dalam berbagai bidang penelitian. Dengan pemahaman menyeluruh ini, uji Chi-Square dapat menjadi alat analisis yang bermanfaat dalam riset ilmiah maupun dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Penggunaan data statistik, terutama pada data biologis ikan, membantu dalam memberikan rekomendasi bagi pengelolaan sumber daya yang lebih baik.

Referensi

Dahlan, M. A., Omar, S. B. A., dan Tresnati, J. 2015. Nisbah Kelamin dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma BLEEKER, 1841) di Perairan Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Torani Journal of Fisheries and Marine Science. Vol 25:1.
Hajaroh, S. dan Raehanah. 2021. Statistik Pendidikan Teori DAN Praktik. Mataram: Sanabil.
Setyanto, A., Sambah, A. B., Widhiastika, D., dan Prayogo, C. 2021. Population structure and biological aspects of lobster (Panulirus spp.) of the Madura Strait landed in Situbondo of East Java, Indonesia. IOP Conference Series Earth and Environmental Science.
Widhiastika, D. 2021. Analisis Sebaran Frekuensi Panjang Karapas dan Hubungan Panjang Berat Lobster (Panulirus spp.) yang Didaratkan di Perairan Utara Jawa Timur. Universitas Brawijaya.

Sekian penjelasan artikel kali ini. Apabila masih ada yang dibingungkan bisa langsung saja ramaikan kolom komentar atau hubungi admin melalui tombol bantuan di kanan bawah. Stay tuned di website https://exsight.id/blog/ agar tidak ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya. Bye bye!

Uji Chi-Square Perikanan – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Nisbah Kelamin Ikan Layang pada Musim Timur) Read More »