Jenis Distribusi Frekuensi dalam Pengolahan Data
Jenis distribusi frekuensi sudah dibahas pada artikel sebelumnya ya sobat Exsight, bisa dibaca kembali di artikel ini ya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Pada artikel ini akan dijelaskan lebih detail terkait setiap jenis distribusi frekuensi, dilengkapi dengan studi kasus dan output yang disajikan dalam bentuk tabel/grafik.
Pada prinsipnya, ditribusi frekuensi adalah konsep yang digunakan untuk mengelompokkan data ke dalam beberapa kategori atau kelas, sehingga kita bisa memahami pola yang ada dalam kumpulan data tersebut. Distribusi frekuensi memiliki beberapa jenis, tergantung pada karakteristik data dan tujuan analisis. Berikut adalah tiga jenis distribusi frekuensi utama yang biasa digunakan:
1) Distribusi Frekuensi Biasa
Distribusi frekuensi biasa adalah jenis distribusi yang hanya menunjukkan jumlah atau frekuensi setiap kelompok data. Dengan distribusi ini, kita dapat melihat berapa banyak data yang termasuk dalam masing-masing kelompok atau kelas. Distribusi frekuensi biasa terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa (atau kategori).
- Distribusi Frekuensi Numerik: Dalam distribusi ini, data dikelompokkan berdasarkan nilai numeriknya. Contohnya, dalam data tinggi badan siswa, kita dapat mengelompokkan siswa berdasarkan rentang tinggi tertentu, seperti 150-160 cm, 160-170 cm, dan seterusnya.
- Distribusi Frekuensi Peristiwa atau Kategori: Berbeda dengan frekuensi numerik, jenis distribusi ini digunakan untuk data kategori atau kualitatif. Misalnya, untuk data preferensi warna, kita bisa membuat kelompok berdasarkan warna favorit, seperti merah, biru, hijau, dan kuning, lalu menghitung berapa banyak orang yang memilih setiap warna tersebut.
2) Distribusi Frekuensi Relatif
Distribusi frekuensi relatif menunjukkan perbandingan atau proporsi dari setiap kelas atau kelompok terhadap jumlah total pengamatan yang ada. Dalam distribusi ini, kita menghitung seberapa besar data dalam setiap kelas dibandingkan dengan keseluruhan data yang diwakili dalam bentuk persentase atau pecahan. Distribusi ini diperoleh dengan cara membagi frekuensi pada setiap kelas dengan total jumlah data. Misalnya, jika kita memiliki data panjang ikan dan ingin mengetahui berapa persentase ikan yang memiliki panjang antara 135-150 mm, kita dapat menggunakan distribusi frekuensi relatif untuk mendapatkannya.
3) Distribusi Frekuensi Kumulatif
Distribusi frekuensi kumulatif adalah jenis distribusi yang menunjukkan frekuensi kumulatif atau total yang dijumlahkan dari kelas pertama hingga kelas tertentu. Dalam distribusi ini, kita mengumpulkan frekuensi secara bertahap hingga mencapai kelas terakhir. Distribusi ini sangat berguna ketika kita ingin melihat seberapa banyak data yang berada di bawah atau di atas nilai tertentu dalam data kita. Distribusi frekuensi kumulatif terdiri dari dua jenis:
- Distribusi Frekuensi Kumulatif Kurang Dari: Dalam jenis ini, kita menjumlahkan frekuensi dari kelas yang paling rendah hingga kelas tertentu, sehingga kita dapat mengetahui berapa banyak data yang kurang dari atau di bawah nilai tertentu.
- Distribusi Frekuensi Kumulatif Lebih Dari: Sebaliknya, pada distribusi ini, kita menjumlahkan frekuensi dari kelas tertentu hingga kelas yang paling tinggi, yang menunjukkan berapa banyak data yang berada di atas atau lebih dari nilai tertentu.
Distribusi frekuensi kumulatif biasanya disajikan dalam bentuk grafik yang disebut kurva ogif. Kurva ini menggambarkan akumulasi data dari kelas ke kelas, dan membantu dalam memahami pola penyebaran data secara keseluruhan.
Pada artikel ini akan dibahas lebih detail terkait setiap jenis distribusi frekuensi, dilengkapi dengan studi kasus dan output yang disajikan dalam bentuk grafik.
Distribusi Frekuensi Biasa
Jenis distribusi frekuensi ini adalah jenis distribusi frekuensi yang mengandung jumlah frekuensi dari masing-masing kelompok data. Terdapat dua jenis distribusi frekuensi, yakni distribusi frekuensi numerik dan distribusi frekuensi peristiwa atau kategori. Untuk lebih jelasnya, terdapat studi kasus dan contoh pengerjaan dan penyusunan distribusi frekuensi numerik dan peristiwa sebagai berikut:
Studi kasus distribusi frekuensi numerik
Pada studi kasus distribusi frekuensi numerik sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya. Untuk mengingat kembali, penyusunan tabel distribusi frekuensinya sebagai berikut langkah-langkahnya:
1) Menentukan Jangkauan (Range)
Langkah pertama setelah mengurutkan data adalah menghitung jangkauan, yang merupakan selisih antara nilai data terbesar dan terkecil. Jangkauan membantu dalam menentukan seberapa luas rentang data yang ada, yang nantinya akan digunakan untuk mengatur kelas-kelas dalam distribusi. Rumusnya adalah:
\text{Jangkauan} = \text{Data Terbesar} - \text{Data Terkecil}2) Menentukan Jumlah Kelas (k)
Menentukan jumlah kelas adalah tahap penting dalam distribusi frekuensi. Untuk jumlah kelas, kita bisa menggunakan rumus Sturgess:
k = 1 + 3.3 \log(n)
Di sini, k adalah banyaknya kelas yang akan digunakan, dan n adalah total data. Rumus ini membantu memastikan bahwa jumlah kelas yang dipilih sesuai dengan ukuran data yang dimiliki, sehingga distribusi frekuensi dapat terbaca dengan baik.
3) Menentukan Panjang Interval Kelas
Panjang interval kelas adalah jarak yang memisahkan setiap kelas dalam distribusi. Interval ini akan membantu mempermudah pembagian data dalam setiap kelas. Rumusnya adalah:
i = \frac{\text{Jangkauan (R)}}{\text{Jumlah Kelas (k)}}Interval kelas yang tepat membuat data lebih mudah dianalisis dan membantu menghindari kelas yang terlalu lebar atau terlalu sempit.
4) Menentukan Batas Bawah Kelas Pertama
Menentukan batas bawah kelas pertama adalah langkah penting dalam distribusi frekuensi. Batas bawah ini biasanya dimulai dari data terkecil atau bisa juga menggunakan nilai sedikit lebih rendah dari data terkecil, tergantung pada rentang data. Selisih antara batas bawah kelas pertama dan data terkecil biasanya kurang dari panjang interval kelas yang ditentukan sebelumnya. Batas ini akan menjadi acuan untuk menentukan batas kelas berikutnya.
5) Mengisi Frekuensi Kelas dalam Kolom Tally atau Turus
Langkah terakhir dalam menyusun distribusi frekuensi adalah mencatat frekuensi kelas ke dalam kolom turus atau tally. Kolom tally berfungsi sebagai catatan visual dari jumlah data yang ada pada setiap kelas. Dalam sistem tally, kita cukup mencoret satu garis untuk setiap data yang berada dalam kelas tertentu. Setelah seluruh data dicatat dalam kelas masing-masing, kita bisa mengetahui berapa banyak data yang berada pada setiap interval, sehingga kita mendapatkan distribusi frekuensi lengkap.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, distribusi frekuensi dapat disusun dengan lebih rapi dan memudahkan analisis data lebih lanjut. Berikut output nya dalam bentuk tabel frekuensi distribusi:

| TL (mm) | Frekuensi |
|---|---|
| 17.20-17.80 | 14 |
| 17.90-18.50 | 42 |
| 18.60-19.20 | 9 |
| 19.30-19.90 | 3 |
| 20.00-20.60 | 2 |
| 20.70-21.30 | 1 |
| 21.40-22.00 | 3 |
Studi kasus distribusi frekuensi kategori/peristiwa
Salah satu indikator untuk mengukur efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi dapat dlihat dari tingkat kelulusan dari setiap jenjang pada universitas/perguruan tinggi tersebut. Terdapat universitas yang memiliki 4 jenjang program pendidikan yakni vokasi, sarjana, magister, dan doktoral. Dalam satu tahun berhasil meluluskan 12.000 mahasiswa. Pengklasifikasiannya yakni lulusan vokasi sebanyak 2.457 mahasiswa, sarjana 7.263 mahasiswa, magister 1.975 mahasiswa, dan doktoral 305 mahasiswa.
Penyusunan dalam tabel frekuensi distribusi sebagai berikut:
| Jenjang program pendidikan | Frekuensi (individu) |
|---|---|
| Vokasi | 2457 |
| Sarjana | 7263 |
| Magister | 1975 |
| Doktoral | 305 |
Output selain dalam bentuk tabel frekuensi bisa dalam bentuk grafik batang/bar chart sebagai berikut:

Distribusi Frekuensi Relatif
Distribusi frekuensi yang berisikan nilai-nilai hasil bagi antara frekuensi kelas dan jumlah pengamatan. Distribusi frekuensi relatif menyatakan proporsi data yang berada pada suatu kelas interval. Distribusi frekuensi relatif pada suatu kelas didapatkan dengan cara membagi frekuensi dengan total data yang ada dari pengamatan atau observasi.
Rumus dari frekuensi relatif sebagai berikut:
fr_{i} = \frac{f_{i}}{\sum_{i=1}^{k} f_{i}} \times 100 \%Keterangan:
fri = frekuensi relatif kelas i
fi = frekuensi kelas i
∑fi= jumlah frekuensi kelas 1 sampai k
i = 1, 2, 3, …, k
Studi kasus distribusi frekuensi relatif
Pada studi kasus distribusi frekuensi relatif sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya.
Frekuensi relatif (%) dihitung dengan pembagian antara jumlah frekuensi perkelas dibagi dengan total frekuensi, kemudian dikali 100%.
Kita ambil salah satu contoh perhitungan pada kelas pertama yakni pada panjang ikan yang berukuran 17.20-17.80 mm berjumlah 14, frekuensi kelas tersebut dibagi dengan total frekuensi yakni 74, kemudian dikali 100%. Penulisan perhitungannya yakni (14 : 74) x 100% = 19%
| TL (mm) | Frekuensi | Frekuensi Relatif (%) |
|---|---|---|
| 17.20-17.80 | 14 | 19 |
| 17.90-18.50 | 42 | 57 |
| 18.60-19.20 | 9 | 12 |
| 19.30-19.90 | 3 | 4 |
| 20.00-20.60 | 2 | 3 |
| 20.70-21.30 | 1 | 1 |
| 21.40-22.00 | 3 | 4 |
| Total | 74 |
Distribusi Frekuensi Kumulatif
Distribusi frekuensi yang berisikan frekuensi kumulatif (frekuensi yang dijumlahkan). Distribusi frekuensi kumulatif memiliki kurva yang disebut ogif. Ada dua macam distribusi frekuensi kumulatif, yaitu distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan distribusi frekuensi lebih dari.
Studi kasus distribusi frekuensi kumulatif
Pada studi kasus distribusi frekuensi relatif sama seperti pada artikel Exsight sebelumnya Distribusi Frekuensi – Tutorial SPSS (Studi Kasus: Distribusi Frekuensi Ukuran Ikan Tongkol Lisong). Data ini terkait dengan ukuran panjang ikan (total length/TL) yang dibedakan berdasarkan kelas panjang untuk mengetahui masing-masing frekuensinya.
Frekuensi kumulatif kurang dari
| TL (mm) | Frekuensi | TL (mm) kurang dari | Frekuensi kumulatif kurang dari |
|---|---|---|---|
| kurang dari 17.20 | 0 | ||
| 17.20-17.80 | 14 | kurang dari 17.90 | 0 + 14 = 14 |
| 17.90-18.50 | 42 | kurang dari 18.60 | 0 + 14 + 42 = 56 |
| 18.60-19.20 | 9 | kurang dari 19.30 | 0 + 14 + 42 + 9 = 65 |
| 19.30-19.90 | 3 | kurang dari 20.00 | 0 + 14 + 42 + 9 + 3 = 68 |
| 20.00-20.60 | 2 | kurang dari20.70 | 0 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 = 70 |
| 20.70-21.30 | 1 | kurang dari21.40 | 0 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 + 1 = 71 |
| 21.40-22.00 | 3 | kurang dari 22.10 | 0 + 14 + 42 + 9 + 3 + 2 + 1 + 3 = 74 |
Frekuensi kumulatif lebih dari
| TL (mm) | Frekuensi | TL (mm) lebih dari | Frekuensi kumulatif lebih dari |
|---|---|---|---|
| 17.20-17.80 | 14 | lebih dari 17.20 | 74 |
| 17.90-18.50 | 42 | lebih dari 17.90 | 74 – 14 = 60 |
| 18.60-19.20 | 9 | lebih dari 18.60 | 74 – 14 – 42 = 18 |
| 19.30-19.90 | 3 | lebih dari 19.30 | 74 – 14 – 42 – 9 = 9 |
| 20.00-20.60 | 2 | lebih dari 20.00 | 74 – 14 – 42 – 9 – 3 = 6 |
| 20.70-21.30 | 1 | lebih dari 20.70 | 74 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 = 4 |
| 21.40-22.00 | 3 | lebih dari 21.40 | 74 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 – 1 = 3 |
| lebih dari 22.10 | 74 – 14 – 42 – 9 – 3 – 2 – 1 – 3 = 0 |
Dengan memahami ketiga jenis distribusi frekuensi ini—distribusi frekuensi biasa, distribusi frekuensi relatif, dan distribusi frekuensi kumulatif—kita bisa mendapatkan wawasan lebih dalam tentang data yang kita miliki. Masing-masing jenis distribusi memiliki kegunaan tersendiri, tergantung pada apa yang ingin kita lihat dari data tersebut. Distribusi frekuensi biasa cocok digunakan untuk melihat jumlah setiap kelas atau kategori, distribusi frekuensi relatif cocok untuk melihat proporsi, dan distribusi frekuensi kumulatif berguna untuk analisis akumulasi data dari kelas terendah hingga tertinggi.
Referensi
Andriani, D. P. 2019. Distribusi Frekuensi. Brawijaya University.
Hasanah, N., Putra, A. E., Nurdin, M. S., dan Maasily, I. S. 2022. Pertumbuhan Ikan Tongkol Lisong (Auxis rochei) di Selat Makassar Sulawesi Tengah. Prosiding Semnas Politani Pangkep. Vol 3.
Nugrogo, A. A., Dwijayanti, I., Prasetyowati, R. D. 2023. Statistik Berbantu Ms. Excel. Patlot Publisher.
Sekian penjelasan artikel kali ini. Apabila masih ada yang dibingungkan bisa langsung saja ramaikan kolom komentar atau hubungi admin melalui tombol bantuan di kanan bawah. Stay tuned di website https://exsight.id/blog/ agar tidak ketinggalan artikel-artikel menarik lainnya. Bye bye!
Jenis Distribusi Frekuensi dalam Pengolahan Data Read More »



























